Friday, December 5, 2014

Tanatologi



Tanatologi adalah cabang ilmu kedokteran forensic yang mempelajari tentang kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan itu.
Tanda-tanda kematian:
  1. Dini
    1. Pernapasan terhenti, penilaian > 10 menit (Inspeksi, palpasi, Auskultasi)
    2. Terhantinya sirkulasi, Penilaian 15 menit, nadi karotis tidak teraba
    3. Kulit pucat, dapat juga spasme agonal
    4. Pembuluh darah retina bersegmentasi beberapa menit pasca kematian
    5. Tonus otot menghilang dan relaksasi
    6. Pengeringan kornea yang menimbulkan kekeruhan dalam 10 menit ( hilang dengan penyiraman air)
  2. Lanjut (Tanda Kematian Pasti)
    1. Lebam Mayat (Livor Mortis)
Merupakan bercak-bercak merah ungu (Livide) pada bagian terbawah tubuh dikarenakan penumpukan eritrosit  pada lokasi terendah akibat penhgaruh gravitasi, kecuali bagian tubuh yang tertekan alas yang keras. Mulai muncul pada 20-30 menit pasca kematian kemudian meluas dan lengkap, akhirnya menetap setelah 8-12 jam. Selain sebagai tanda pasti kematian, lebam mayat juga dapat digunakan sebagai tanda untuk memperkirakan sebab kematian, saat kematian, dan mengetahui perubahan posisi mayat. Lebam mayat harus dibedakan dengan ekstravasasi darah karena trauma.
    1. Kaku mayat (Rigor Mortis)
Terjadi akibat hilangnya glikogen di dalam otot. Mulai muncul di persendian 2 jam setelah kematian dan mengarah kedalam (sentripetal) dan menjadi lengkap dalam 12 jam. Kaku mayat ini akan bertahan selama selama 12 jam berikutnya kemudian akan menghilang secara bertahap sesuai dengan urutan terbentuknya.
Fakor yang dapat memepercepat kekakuan mayat adalah aktivitas prakematian, suhu tubuh yang tinggi, tubuh kurus, suhu lingkungan yang tinggi.
    1. Penurunan Suhu Tubuh (Algor Mortis)
Penurunan suhu tubuh ini diakibatkan berpindahnya panas dari tubuh ke lingkungan yang suhunya labih dingin. Penurunan suhu tubuh ini akan lebih cepat apabila suhu lingkungan sangat rendah, tubuh kurus, mayat tidak menggunakan pakaian/ pakaian tipis, orang tua/ anak-anak. Penurunan suhu ini > kurva sigmoid, saat mendekati suhu keliling akan menjadi sangat datar.
    1. Pembusukan (dekomposisi)
Merupakan proses autolysis dan kerja bakteri dalam tubuh yang muncul 24 jam pascamati dimulai dari perut kanan bagian bawah kemudian menyebar keseluruh perut dan dada. Hal ini ditandai dengan munculnya warna kehijauan disertai dengan bau busuk. Kira-kira 36-48 jam akan dijumpai larva lalat. Indentifikasi spesies lalat melaui panjang larva dapat memperkirakan waktu kematian. Pembusukan akn lebih cepat apabila suhu keliling optimal, kelembaban udara cukup, banyak bakteri pembusukan, tubuh gemuk, penderita sepsis/infeksi. Media udara mempercepat pembusukan dan bayi lebih lambat membususk.
    1. Lilin Mayat (Adiposera)
Adalah perubahan postmortem berupa terbentuknya bahan berwarna keputihan, lunak, dan berminyak, bau tengaik, dalam jaringan lunak tubuh. Adiposera dapat muncul di semua lemak tubuh, tetapi pertama kali akan muncul di lemak superfisial. Adiposera akan membuat tubuh awet hingga bertahun-tahun. Pada 12 minggu postmortem adiposera terlihat jelas secara makroskopik. Hal yang mempermudah terbentuknya adalah kelembaban dan lemak tubuh yang cukup, suhu hangat, invasi bakteri endogen ke jaringan. Faktor penghambat adalah air dan udara dingin.
    1. Mumifikasi
Proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan. Jaringan akan menjadi keras, kering, keriput, gelap, dan tidak membusuk. Terjadi pada suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi dan waktu yang lama (12-24 minggu).
Perkiraan Saat kematian
Selain Perubahan diatas, perubahan lain yang dapat digunakan adalah
A.      Perubahan pada mata.
a.      Kekeruhan pada kornea menetap 6 jam pasca kematian.
b.      Hingga 30 menit pascamati akan tampak kekeruhan macula dan memucatnya diskus optik.
c.       Selama 2 jam pertama, retina akan pucat, daerah sekitar diskus dan macula akan menjadi kuning.
d.      Setelah 3 jam  vascular koroid menjadi kabur dan menjadi homogen pucat dalam setelah 5 jam.
e.      Setelah 6 jam: Diskus kabur, pembuluh darah akan bersegmentasi dengan latar kuning kelabu.
f.        Setelah 12 jam: Hanya diskus yang dapat dikenali.
g.      Setelah 15 jam: Hanya macula saja yang tampak, berwarna coklat gelap.
B.      Lambung : pengosongan lambung bervariasi, kita dapat menilai makanan apa yang dikonsumsi beberapa jam sebelum mati.
C.      Rambut : untuk mengetahui pertambahan panjang rambut, kumis, dan jenggot dari saat kematian. (rata-rata : 0,4 mm/hari)
D.     Pertumbuhan kuku. (rata-rata : 0,1 mm/hari)
E.      Perubahan cairan serebrospinal
a.      Kadar nitrogen asam amino <14 mg% ( kematian belum lewat 14 jam)
b.      Nitrogen non protein <80 mg% ( belum 24 jam)
c.       Kreatin < 5 mg% ( belum 10 jam)
d.      Kreatin < 10 mg% ( belum 30 jam)
F.       Cairan vitreus : peningkatan  kalium secara bermakna
G.     Perubahan semua komponen darah
H.     Reaksi supravital: merupakan reaksi mayat seperti pada jaringan tubuh yang masih hidup
Daftar Pustaka:
Mansjoer, Arif dkk, 2000, Kapita selekta kedokteran edisi ketiga jilid kedua, Jakarta: Media Aesculapius. Hal. 208-211

No comments:

Post a Comment

Related Post

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...