Friday, December 19, 2014

Lesi Prekanker Serviks (BST)



PENDAHULUAN

            Kanker serviks merupakan salah satu masalah kesehatan wanita terutama di Negara berkembang termasuk Indonesia. Menurut laporan 12 center pusat patologi tahun 1997 di Indonesia, kanker serviks menduduki tingkat tertinggi 26,4% dari 10 jenis kanker terbanyak pada wanita. Selain angka kejadian tinggi, masalah lain adalah hamper 70% kasus datang ke Rumah Sakit dalam stadium lanjut (Advanced Stage).
 Di beberapa Negara bahkan menjadi penyebab kanker terbanyak pada wanita dengan kontribusi 20-30%. Di Amerika Serikat, Kanker serviks menduduki ranking kedelapan di antara kanker-kanker pada wanita Di Negara berkembang keganasan pada serviks merupakan penyebab kematian wanita karena kanker terbanyak sedangkan di Negara maju menjadi penyebab kematian nomor dua. Setiap tahun di seluruh dunia terdapat 600.000 kanker serviks invasif baru dan 300.000 kematian. Di negara barat yang maju kanker serviks hanya mencapai 4-6% dari seluruh penyakit kanker pada wanita. Perbedaan yang besar ini disebabkan oleh penggunaan metode skrining massal yang sudah efektif.
            Skrining kanker serviks dengan tes Pap Smear dan bantuan tes IVA ternyata dapat menurunkan kejadian kanker serviks invasive hingga 90% dan menurunkan angka mortalitas hingga 70-80%. Kemampuan untuk melakukan deteksi lesi prekanker ditentukan oleh kemudahan untuk melakukan akses ke daerah serviks dan kemampuan untuk melakukan penilaian patologi yang ditemukan. Untuk hal tersebut diperlukan pengertian tentang proses karsinogenesis dan perubahan dari lesi prekanker menjadi lesi kanker.
   Pengetahuan mengenai histogenesis kanker serviks menunjukkan bahwa penyakit ini mempunyai perkembangan yang bertahap. Terutama tipe skuamosa yang miliki frekuensi tertinggi. Berbagai penelitian prospektif menunjukkan bahwa karsinoma serviks dimulai dari perubahan sel permukaan yang atipik atau dikenal dengan Neoplasia Intraepitel Serviks atau NIS.
DEFINISI
 Kanker Serviks adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina)
Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun. 90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya berasal dari sel kelnjar penghasil lender pada saluran servikal yang menuju ke dalam rahim.
LESI PREKANKER
Lesi prekanker serviks atau biasa yang disebut dengan neoplasia intraepithelial serviks (NIS) atau lesi intraepithelial serviks (LIS) adalah perubahan atipik dari proses diferensiasi bertahap epitel kolumner dari skuamosa serviks.
Richart (1967) mengajukan terminologi NIS sebagai berikut :
NIS I   : Displasia ringan, perubahan sel mencakup pada lapisan dasar
NIS II : Displasia sedang, ½ sampai ¾ tebal epitel yang mengalami kelainan
NIS III            : Displasia berat/ karsinoma in situ, lebih dari ¾ tebal epitel mengalami
  Kelainan tetapi membrana basalis masih utuh.

Displasia berat dan karsinoma in situ digabung, karena sulit dibedakan secara secara sitologi. Dalam perjalanan penyakit, tidak semua NIS akan mengalami perkembangan ke tingkat lebih lanjut. Sebagian akan mengalami regresi ke tingkat yang lebih rendah, sebagian akan menetap selama bertahun-tahun dan sebagian lagi akan berkembang ke tingkat yang lebih lanjut. Sehingga perkembangan kanker leher rahim dapat digambarkan sebagai berikut :
CIN I → CIN II →CIN III → CIS → Carsinoma Invasive
CIS = Carsinoma In situ
Lamanya waktu yang diperlukan untuk perkembangan dari CIN I atau displasia ringan menjadi karsinoma in situ dapat dilihat pada tabel berikut:
Tingkat displasia
Waktu (bulan)
Sangat ringan
82 ( ± 7 tahun )
Ringan
58 ( ± 5 tahun )
Sedang
38 ( ± 3 tahun )
Berat
12 ( ± 1 tahun )

Ketiga pembagian di atas dibedakan berdasarkan gangguan polaritas sel dan ketebalan epitel skuamosa yang terlibat.  Perbedaan ini secara sitologi dapat dilihat dari :
a.       Abnormalitas inti sel
b.      Variabilitas dalam bentuk
         Ukuran sel
         Perbandingan inti dan sitoplasma
         Bentuk dan ukuran inti, struktur inti dan derajat kromasia
c.       Karsinoma in situ
EPIDEMIOLOGI
Kanker serviks merupakan salah satu masalah kesehatan wanita terutama di Negara berkembang termasuk Indonesia. Menurut laporan 12 pusat Patologi tahun 1997 di Indonesia kanker serviks menduduki tingka tertinggi 26,4% dari 10 jenis kanker terbanyak pada wanita. Selain angka kejadiannya tinggi, masalah lain adalah hampir 70% kasus datang ke rumah sakit dalam stadium lanjut (Advanced Stage). Di Jawa Barat berdasarkan data dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) tahun 1987-1988 sebanyak 2.009 penderita kanker merupakan penderita kanker serviks. Di RSHS jumlah pasien kanker serviks terus meningkat dari tahun ke tahun. Penderita yang berobat mencapai 400 orang per tahunnya.
ETIOLOGI
Penyebab langsung dari NIS belum diketahui. Namun saat ini etiologi kanker servik secara epidemiologi yang dimulai dari dysplasia adalah virus HPV (Human Papilloma Virus). Kanker servik dikaitkan dengan berbagai factor risiko yang memicu munculnya penyakit ini Faktor faktor resiko kanker serviks antara lain :
  1. Umur muda pada koitus pertama
  2. Banyak pasangan seksual
  3. Kawin muda
  4. Umur muda pada kehamilan pertama
  5. Paritas yang tinggi
  6. Paritas yang tinggi
  7. Perceraian
  8. Status social ekonomi bawah
  9. Merokok
  10. Berpasangan seksual dengan orang yang banyak pasangan seksual

HUMAN PAPILOMA VIRUS
            Human Papiloma Virus termasuk golongan papovavirus yang merupakan virus DNA yang dapat bersifat mutagen. HPV berbentuk ikosahedral dengan ukuran 55 nm, memiliki 72 kapsomer dan 2 protein kapsid. Infeksi virus HPV telah dibuktikan menjadi penyebab lesi prekanker, kondiloma akuminatum, dan kanker. Meskipun HPV pada umumnya menyerang wanita tetapi virus ini juga mempunyai peranan dalam timbulnya kanker pada anus, vulva, vagina, penis dan beberapa kanker orofaring.
            Terdapat 138 strain HPV yang sudah dapat diidentifikasi, 30 diantaranya dapat ditularkan lewat hubungan seksual. Walaupun umumnya HPV ditularkan melalui kontak seksual, tidak seorang dokter pun dapat memperkirakan kapan infeksi itu terjadi. Kebanyakan infeksi HPV juga dapat mengalami remisi setelah beberapa tahun. Beberapa diantaranya akan menetap tanpa atau dengan menyebabkan abnormalitas pada sel.
            Beberapa tipe HPV bersifat virus resiko rendah karena jarang menyebabkan kanker. Sedangkan tipe yang lain bersifat virus resiko tinggi. Baik tipe resiko tinggi maupun tipe resiko rendah dapat menyebabkan pertumbuhan yang abnormal pada sel tetapi secara umum hanya HPV tipe resiko tinggi yang dapat memicu kanker. Virus HPV resiko tinggi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual adalah tipe 16,18,31,33,35,39,45,51,52,56,58,59,68,69, dan mungkin masih terdapat beberapa tipe lain. Di Indonesia tipe virus yang menyebabkan kanker adalah tipe 16,18 dan 52. Tipe virus resiko tinggi biasanya menimbulkan lesi rata dan tak terlihat dibandingkan tipe resiko rendah yang menimbulkan pertumbuhan seperti jengger ayam pada tipe HPV 6 dan 11 atau dikenal sebagai kondiloma akuminatum. Perlu dicatat mayoritas virus HPV resiko tinggi dapat mengalami remisi secara spontan. Penilitian yang ada menunjukkan bahwa  lebih dari 90% kanker serviks disebabkan oleh HPV, yang 70%-nya disebabkan oleh tipe 16 dan 18 sesuai dengan yang dipublikasikan dalam Lancet Oncology bulan April 2005. Dari kedua tipe ini HPV 16 sendiri menyebabkan lebih dari 50% kanker serviks. Seseorang yang sudah terkena infeksi HPV 16 memiliki kemungkinan terkena kanker serviks sebesar 5%. Kanker serviks yang disebabkan HPV umumnya berjenis karsinoma sel skuamosa.
            Penelitian yang dilakukan di laboratorium memperlihatkan HPV yang memiliki selubung protein yang dikenal dengan kapsid mayor L1 dan minor L2 serta memproduksi protein yang dikenal sebagai protein E1,E2,E5,E6 dan E7. Protein E1 dan E2 berperan dalam proses replikasi. Sementara protein HPV E5 mungkin berikatan dengan reseptor PDGF, E6 akan mempengaruhi protein p53 dan E7 dengan protein RB. Protein RB, dan p53 ada pada semua manusia dan berfungsi mencegah pertumbuhan sel secara berlebihan. Adanya infeksi HPV yang tidak dapat diatasi oleh tubuh akan menjadi pemicu terjadinya pertumbuhan sel abnormal. Dalam hal ini terjadi mutagenensis pada sel. Penelitian menggunakan jalur ini untuk melakukan interupsi proses pertumbuhan. Adanya antigen virus seperti struktur protein kapsid L1, onkoprotein E6 dan E7 menjadi salah satu dasar dibuatnya vaksin HPV. Walaupun sukar untuk didefinisikan dengan tepat adanya respon imun alami menjadi sangat penting dan terdapatnya kelemahan pada ssstem imunitas seluler berkolerasi dengan peningkatan penyakit dan kanker.
PATOGENESIS
Serviks mempunyai 2 jenis epitel yaitu kolumner dan skuamosa yang dihubungkan satu sama lain oleh sambungan skuamosa kolumner. Epitel kolumner akan diganti oleh epitel skuamosa yang baru pada proses metaplasia. Proses metaplasia terjadi dalam 2 periode yakni masa dinamik yang merupakan pergantian bertahap epitel kolumner dari skuamosa dan masa maturasi yang merupakan proses diferensiasi dan pematangan dari sel-sel yang sudah mengalami masa dinamis.
Pada masa dinamik degan pengaruh faktor-faktor pencetus dapat terjadi perubahan atipik yang secara klinis disebut NIS. Displasia berawal dari fokus tunggal di zona transformasi serviks. Bibir anterior serviks kemungkinan dikenai 2 kali lebih banyak dari bibir posterior dan jarang sekali dysplasia berawal dari sudut lateral. Virus HPV memiliki selubung protein yang dikenal dengan kapsid mayor L1 dan kapsid minor L2 serta memproduksi protein E1,E2,E5,E6,E7 yang bersifat onkogen. Oknoprotein E6 dan E7 ini merupakan penyebabnya terjadinya degenerasi keganasan pada sel serviks. Oknoprotein E6 dan E7 tersebut akan mengikat tumor subpressor gene P53 (TSG T53) dan TSG. Ikatan tersebut akan melepaskan E2F yang bersifat sebagai faktor transkripsi sehingga siklus sel berjalan tanpa kontrol yang menyebabkan terjadinya suatu siklus yang bersifat mutagenesis. Adanya infeksi HPV beresiko tinggi ini yang tak bisa diatasi oleh tubuh akan menjadi pemicu terjadinya perubahan sel abnormal atau mutagenesis sel. NIS bila tidak ditanggulangi dengan baik akan berlanjut  menjadi karsinoma invasif dengan perjalanan  waktu.
Displasia ringan dan sedang 60% akan menjelma menjadi karsinoma invasif sedangkan dysplasia berat dan karsinoma insitu sebanyak 75%. Kira-kira diperlukan 3-10 tahun dari karsinoma insitu menjadi karsinoma invasif. Perkembangan dari dysplasia ringan menjadi karsinoma insitu kira-kira 5 tahun,dari displasia sedang 3 tahun dan dari displasia berat 1 tahun. Belum ditemukan patokan meramalkan NIS mana yang akan berkembang dan mana yang tidak.
GEJALA KLINIS
Biasanya pada NIS tidak ditemukan gejala,kadang hanya berupa keputihan atau gejala peradangan lazimnya. Pada stadium invasif yang sering ditemukan adalah gejala-gejala nekrosis jaringan yaitu keputihan yang berbau busuk. Gejala dominan yang kedua adalah adanya perdarahan kontak (Post Coital Bleeding), serta yang terakhir adalah menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak).
SKRINING NEOPLASIA SERVIKS
Sekarang rekomendasi dari American Colegge of Obtetrian dan ginekologist adalah bahwa semua wanita, sekali mereka aktif secara seksual harus menjalani pemeriksaan fisik tahunan, termasuk sediaan hapus papanikolau. Ada beberapa metode skrining yaitu Pap smear, thinprep, kolposkopi, kuretasi endoserviks dan biopsi. Sistem Bethesda adalah system pelaporan yang saat ini sudah banyak di terima. Sistem ini berusaha mengurangi keraguan dalam diagnosis yang selama ini terjadi serta mengembangkan terminology yang tetap sehingga standar penatalaksanaan yang jelas dapat dibuat.
 Meskipun banyak teknik pemeriksaan skrining, diagnosis definitive yang dapat dipercaya hingga saat ini adalah hasil pemeriksaan patologi anatomi dari biopsi. Kuretase endoserviks sangat berperan dalam menegakkan diagnosis adenokarsinoma insitu serviks (AIS). Biopsi kadang kala harus dibantu dengan kolposkopi karena lesinya kecil atau multifokal.Bila seluruh daerah sambungan skuamokolumnar baru dapat terlihat masih rasional untuk tidak melakukan kuratase endoserviks.Pada papsmear sebaiknya dilakukan setidak-tidaknya 3 tahun setelah pertama kali hubungan seksual.Skrining sebaiknya dilakukan 2 tahun sekali.Sedang pada wanita 70 tahun dengan 3 kali pemeriksaan berturut-turut normal dan tidak didapatkan riwayat sitologi yang abnormal dalam sepuluh tahun terakhir,maka dapat dipertimbangkan untuk tidak melanjutkan prosedur skrining.Pemeriksaan HPV DNA dapat ditambahkan pada wanita berumur lebih dari 30 tahun.
Berikut adalah teknik penelusuran pada pemeriksaan skrining:
  1.  biopsi à lesi pada serviks terlihat jelas
  2. frekuensi skrining berdasarkan standar pelayanan medis yang dianutàsitologi serviks atau papsmear negatif
  3. ulangi pemeriksaan setelah 3 bulan dan obati infeksi bila ada indikasi à jika sitologi serviks atau hasil papsmear tidak memuaskan
DIAGNOSIS
Diagnosa yang cukup mudah, efektif bisa ditegakkan dengan tes  Pap Smear, tes IVA, Biopsi, Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar). Hasil dari pemeriksaan tes Pap Smear dilaporkan sesuai klasifikasi Papanicolaou dan system Bethesda. Secara umum gambaran sitologi pra kanker skuamosa menunjukkan diskariosis yang ditandai dengan adanya hiperkromasia, pola kromatin kasar, ketidakteraturan membran inti. Pada displasia  ringan gambaran utama adalah abnormalitas terutama pada sel superfisial dengan gambaran koilosit disertai nisbah inti sitoplasma besar dari normal. Pada displasia derajat sedang nisbah inti sitoplasma jauh lebih besar, ukuran dan bentuk sel lebih bervariasi. Pada displasia berat, terjadi kehilangan polaritas dari sel. Dua faktor yang membedakan derajat ringan dan berat yaitu meningkatnya jumlah sel immature dan abnormalitas inti.
Pada tes IVA dengan cara memulas serviks dengan asam asetat 3-5% akan mempengaruhi epitel yang abnormal. Osmolaritas cairan ekstraseluler akan meningkat, cairan yang hipertonik ini akan menarik cairan intraseluler sehingga membran inti akan kolaps dan jarak antara sel makin dekat. Jika permukaan epitel mendapat sinar, maka sinar ini tidak akan diteruskan ke stroma tapi dipantulkan keluar sehingga epitel yang abnormal berwarna putih dan disebut epitel putih (White Epithelium). Jika makin putih dan makin jelas batasnya maka makin tinggi derajat histologiknya. Diperlukan sampai 2 menit untuk melihat perubahan pada epitel serviks yang diberi larutan asam asetat. Larutan asam asetat 5% responnnya lebih cepat dari yang 3%. Bercak putih yang terjadi mencurigakan adanya displasia. Pemeriksaan biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau luka serviks, atau jika Pap smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker.
PENATALAKSANAAN
Pada penderita yang telah ditegakkan diagnosa displasia dapat diobati dengan berbagai cara dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Pilihan pengobatan tergantung derajat lesi, ukuran dan tempat lesi, umur dan riwayat reproduksi. Prinsip utama pengobatan adalah memberikan terapi adekuat untuk menghilangkan penyakit secara aman dan efektif dan mencegah rekurensi.
Teknik tersebut antara lain krioterapi, elektrokauter, elektrokoagulasi, laser CO2. Secara bedah dapat dilakukan dengan konisasi (Eksisi kerucut) pada serviks, dengan zona transformasi sebagai alas kerucut dan mengangkat seluruh kanalis servikalis. Tindakan konisasi ini dapat dilakukan dengan scalpel (Cold Knife Conization), laser elektro Surgery yaitu Loop Electro Surgical Excision Procedure (LEEP), Large Loop Excision Of The Transformation Zona (LLETZ). Evidence base memperlihatkan tidak ada satupun modalitas terapi di atas yang lebih superior dalam mengatasi neoplasma intraepithelial serviks. Cryotherapy merupakan salah satu metode terapi yang efektif pada lesi derajat rendah tetapi tidak pada yang derajat tinggi.
PENCEGAHAN
Ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks :
  1. Mencegah terjadinya infeksi HPV : vaksin HPV.
  2. Melakukan pemeriksaan Pap smear secara teratur
a.      VAKSIN HPV
Vaksin adalah zat yang terbuat dari bagian virus atau kuman yang tujuannya untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit tertentu. Isu tentang dapat dibuatnya vaksin untuk HPV sudah mulai dipublikasikan pada majalah Frontiers in Bioscience di awal tahun 2003.
Kebanyakan vaksin profilaktik merupakan partikel poten mirip virus (VLP) yang dibuat dari struktur protein yang dikenal sebagai L1. Penelitian klinik fase satu memperlihatkan tingkat keamanan respon imun yang dihasilkan cukup baik, tetapi data tentang efektivitasnya masih terbatas. Yang dimaksud dengan efektivitas vaksin adalah kemampuan vaksin ini untuk mencegah kanker bila diberikan pada manusia. Percobaan tentang efektivitas vaksin sampai saat masih terus dievaluasi termasuk pembuatan vaksin yang berasal peptida E6 dan E7, gabungan beberapa protein lain, plasmid, DNA tak berkapsul, dan vaksin virus rekombinan.
            Para peneliti di setiap kanker nasional Amerika Serikat dan beberapa tempat lain tengah mempelajari bagaimana mekanisme HPV dapat merubah sebuah sel menjadi lesi prekanker dan bagaimana perubahan ini dapat dicegah. Mereka menggunakan pola pertumbuhan HPV pada laboratorium untuk menemukan cara mencegah terjadinya infeksi dan penyakit lain yang menyertai dan mencoba membuat vaksin yang dapat mencegah berkembangnya HPV. Saat ini vaksin untuk Human Papiloma Virus itu sedang dalam penelitian tahap 3. Penelitian klinis tahap 3 melibatkan sampel manusia dari berbagai pusat penelitian dan beberapa diantaranya telah mencapai 18.000 orang. Hasil sementara menunujukkan vaksin ini dapat melindungi infeksi yang sudah menetap selama 2-4 tahun. Hasil keseluruhan dari penelitian klinis tahap 3 dapat kita lihat 1-2 tahun mendatang.
            Sebuah jurnal kedokteran yang diterbitkan di Inggris pada pertengahan tahun 2003 menyatakan rekombinan partikel protein vaksin mirip virus (VLP) HPV dapat ditoleransi dengan baik dan dapat mencegah dengan sempurna (mendekati 100%) serangan infeksi virus HPV Tipe 16.Sementara itu peneliti lain menyimpulkan seluruh vaksin yang sudah dibuat cukup aman dan dapat ditoleransi baik oleh tubuh manusia.Data-data pendahuluan yang ada juga mengindikasikan bahwa vaksin tersebut secara klinis sangat efektif.
           Saat ini penelitian tentang vaksin HPV telah mencapai akhir dari uju klinis tahap III dengan melibatkan lebih dari 50,000 orang hampir di 35 negara. Efektivitasnya juga dicobakan pada pria. Vaksin ini direncanakan akan diajukan ke Badan Pengawasan Obat Dan Makanan Amerika Serikat(FDA) awal tahun 2006 untuk mendapatkan persetujuan. Merck & Co dan GlaxoSmithKline (GSK) adalah 2 perusahaan besar yang saat ini sedang bersaing dalam pembuatan vaksin HPV.Merck  menghasilkan vaksin quadrivalen yaitu vaksin bagi virus HPV 6,11 dan 16,18 sedangkan GSK menghasilkani  vaksin bagi virus HPV Tipe 16 dan 18.
         Penemuan vaksin anti-HPV telah menunjukkan suatu resolusi besar di abad ini. Bagaimana tidak,dengan ditemukannya vaksin ini berarti 20-30 tahun yang akan datang tidak akan lagi ditemukan kanker serviks karena HPV.Adenokarsinoma serviks adalah jenis kanker serviks lain yang ditemukan dalam porsi kecil dan sebabnya belum diketahui.

b.      PAP SMEAR SECARA TERATUR
Pap Smear (tes Papanicolau) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel-sel yang diperoleh dari apusan serviks. Pada pemeriksaan Pap smear, contoh sel serviks diperoleh dengan bantuan sebuah spatulayang terbuat dari kayu atau plastik (yang dioleskan bagian luar serviks) dan sebuah sikat kecil (yang dimasukkan ke dalam saluran servikal). Sel-sel serviks lalu dioleskan pada kaca objek lalu diberi pengawet dan dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa. 24 jam sebelum menjalani Pap smear, sebaiknya tidak melakukan pencucian atau pembilasan vagina, tidak melakukan hubungan seksual, tidak berendam dan tidak menggunakan tampon. Pap smear sangat efektif dalam mendeteksi perubahan prekanker pada serviks. Jika hasil Pap smear menunjukkan displasia atau serviks tampak abnormal, biasanya dilakukan kolposkopi dan biopsy
Adapun jawaban yang akan diperoleh dari ahli Patologi Anatomi biasanya adalah :
KELAS I        : Normal
KELAS II       : Sel atipik atau proses radang
KELAS III     : Mencurigakan ganas (displasia ringan, sedang, dan berat)
KELAS IV     : Dijumpai sel ganas dengan jumlah sedikit
KELAS V       : Dijumpai sel ganas jumlah ganas

Keterangan :
-          Kelas 1 dan 2 tergolong smear yang negatif
-          Kelas 3 mencurigakan ganas yang harus dijajaki lebih lanjut dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi, didalam kels 3 inilah lesi pra kanker biasanya terdeteksi
-          Kelas 4 dan 5 tergolong smear positif


Anjuran untuk melakukan Pap smear secara teratur:
1.      Setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun
2.      Setiap tahun untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita infeksi HPV atau kutil kelamin
3.      Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB
4.      Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun jika 3 kali Pap smear berturut-turut menunjukkan hasil negatif atau untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan karena kanker
5.      Sesering mungkin jika hasil Pap smear menunjukkan abnormal
6.      Sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan prekanker maupun kanker serviks.

Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks sebaiknya :
1.      Anak perempuan yang berusia dibawah 18 tahun tidak melakukan hubungan seksual.
2.      Jangan berganti-ganti pasangan seksual.
3.      Berhenti merokok.

Pemeriksaan panggul setiap tahun (termasuk Pap smear) harus dimulai ketika seorang wanita mulai aktif melakukan hubungan seksual atau pada usia 20 tahun. Setiap hasil yang abnormal harus diikuti dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi.
Beberapa peneliti telah membuktikan bahwa vitamin A berperan dalam menghentikan atau mencegah perubahan keganasan pada sel-sel, seperti yang terjadi pada permukaan serviks.

No comments:

Post a Comment

Related Post

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...