Sunday, November 30, 2014

Asidosis dan Alkalosis (Kesetimbangan Asam Basa)

Dalam keadaan normal pH di tubuh relative dipertahankan pada angka 7.4. Kita mengetahui bahwa pH ini dipengaruhi oleh jumlah ion H+, sedangkan ion H+ mempengaruhi semua aktivitas enzim, permeabilitas sel, dan struktur sel. Oleh karena itu pengaturan H+ ini sangatlah penting sekali. Dalam keadaan normal, kadar ion H+ di CES yaitu 0,00004mEq/L.  Jumlah  ini menyebabkan pH normal sekitar 7.4. untuk mempertahankan pH darah arteri ini tetap relative 7.4 maka tubuh memiliki 3 mekanisme pertahanan, yaitu system buffer (HCO3-, PO42-  ,dan protein/ bekerja dalam hitungan detik- menit ), respirasi (bekerrja dalam hitungan menit-jam), dan ginjal (bekerja dalam hitungan jam-beberapa hari). 

Asidosis
Asidosis adalah keadaan dimana pH darah Arteri dibawah 7.4.   Asidosis ini terbagi menjadi dua jenis yaitu Asidosisrespiratorik dan asidosis metablolik. 
  •  Asidosis respiratorik
Secara umum asidosis repiratorik disebabkan karena naiknya PCO2 dalam darah. Hal ini terjadi akibat hipoventilasi. Dengan peningkatan PCO2 akan mengakibatkan terjadi peningkatan konsentrasi H2CO3 dan H+.Penyebab asidosis respiratorik yaitu hal-hal yang menyebabkan hipoventilasi, yaitu
a.       Hambatan pada pusat pernapasan di medulla oblongata
b.      Gangguan pada otot-otot pernapasan
c.       Gangguan pertukaran gas
d.      Obstruksi sel-sel napas baik atas akut

Kompensasi yang terjadi dalam tubuh untuk mengurangi PCO2 yaitu pertama dengan cara meningkatkan ventilasi alveoli. Dengan peningkatan ventilasi alveoli ini tubuh akan membuang kelebihan CO2 yang berlebih. Kompensasi selanjutnya yaitu dengan cara peningkatan HCO3- plasma yang disebabkan oleh penambahan bikarbonat baru ke dalam cairan ekstrasel oleh ginjal. Peningkatan HCO3-  membantu mengimbangi peningkatan PCO2 , sehingga mengembalikan pH plasma kembali normal.
Mekanisme penurunan H+ ini seperti ini, sel tubulus akan memberi respons secara langsung terhadap peningkatan PCO2 darah. Peningkatan PCO2 akan meningkatkan PCO2 sel tubulus, menyebabkan peningkatan pembentukan H+ dalam sel tubulus, yang kemudian merangsang sekresi H+ lebih banyak. 
  •  Asidosis metabolik
Pada asidosis metabolik, kelebihan H+ melebihi HCO3-  yang terjadi di dalam cairan tubulus secara primer disebabkan oleh penurunan filtrasi HCO3-. Penurunan ini dikarenakan penurunan konsentrasi HCO3- cairan ektrasel. Penurunan kadar HCO3 ini dapat dikarenakan hilang melalui ekresi ginjal maupun karena diare.

Selain karena penurunan kadar HCO3-, asidosis metabolik dapat juga disebabkan oleh penambahan asam di CES, sebagai contoh asidosis laktat, ketogenesis, asam dari TGI. Penambahan asam ini akan meningkatkan kadar H+  secara langsung. Inti dari penyebab asidosis metabolik yaitu terjadi penurunan rasio HCO3- /H+. baik terjadi kekurang HCO3- maupun peningkatan H+.

Kompensasi yang terjadi dalam tubuh paling primer yatiu dengan peningkatan ventilasi alveoli. Peningkatan ini akan mengurangi PCO2 dan kompensasi ginjal, yang dengan menambahkan bikarbonat baru ke dalam cairan ekstrasel, membantu memperkecil penurunan awal konsentrasi HCO3- ekstrasel, serta meningkatakan ekskresi ion H+ untuk mengurangi kadar ion H+ di CES. 
  • Alkalosis
Alkalosis adalah keadaan dimana pH darah Arteri diatas 7.4. Alkalosis  ini terbagi menjadi dua jenis yaitu Alakalosis respiratorik dan alkalosis metablolik.
  • Alkalosis respiratorik
Hal ini merupakan kebalikan dari asidosis respiratorik. Terjadi akibat hiperventilasi alveolar yang menyebabkan PCO2 turun secara drastis. Selain terjadi karena rangsangan saraf pusat, seperti hiperventilasi psikogenik, keadaan hipermetabolik, ataupun karena gangguan CNS, dapat juga karena hipokisia. Hipoksia ini dapat berupa pneumonia, gagal jantung kongestif, fibrosis paru, ataupun tinggal di tempat tinggi yang kadar o2nya rendah. Dikarenakan organ tubuh kekurangan o2 maka secara fisiologis tubuh akan berusaha mengembalikannya ke keadaan homeostasis dengan cara meningkatkan ventilasi untuk memenuhi kebutuhan o2, namun hal ini menyebabkan banyak CO2 banyak keluar dari tubuh.

Kompensasi yang dilakukan tubuh yaitu dengan menurunkan ventilasi alveoli. Dengan penurunan ventilasi ini diharapkan kadar CO2 di darah meningkat, sehingga dapat menurunkan pH. Mekanisme peningkatan H+ ini seperti ini, sel tubulus akan memberi respons secara langsung terhadap penurunan PCO2 darah. Penurunan  PCO2 akan menurunkan  PCO2 sel tubulus, menyebabkan mengurangi  pembentukan H+ dalam sel tubulus, yang kemudian penurunan sekresi H+. Dengan penurunan ekresi ini berarti H+ yang direabsorbsi akan meningkat, sehingga kadar H+ didalam darah meningkat.

Kompensasi kedua yaitu dengan cara meningkatkan ekskresi HCO3-. Dimana dengan peningkatan eksresi HCO3- akan mengakibatkan banyak ion H+ yang tidak berikatan yang nantinya akan direabsobsi tubulus yang kemudian didifusikan ke aliran darah. Dengan peningkatan  konsentrasi H+ di dalam darah nantinya akan menurunkan pH darah
  • Alkalosis metabolik
Seperti dijelaskan diatas tentang asidosis metabolik yang penyebab intinya yaitu karena terjadi penurunan rasio antara HCO3-/H+. Pada alkalosis terjadi kebalikannya yaitu terjadi peningkatan rasio antara  HCO3-/H+. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa hal , diantaranya yaitu peningkatan konsentrasi HCO3- dan/atau penurunan konsentrasi H+.
Hal –hal yang menyebabkan terjadi peningkatan HCO3- salah satunya karena konsumsi bikarbonat yang berlebihan. Sebagai contoh penambahan natrium bikarbonat yang berlebihan.
Hal-hal yang dapat menyebabakan konsentrasi H+ turun diantaranya yaitu
  • Pemberian diuretika(kecuali penghambat karbonik anhidrase) : Dengan penambahan obat diuretic akan menyebabkan aliran cairan di tubulus lebih cepat, sehingga reabsobsi Na+ meningkat. Karena peningkatan reabsobsi Na+ selalu berpasangan dengan sekresi H+, maka sekresi H+ meningkat pula. Selain itu reabsopsi bikarbonat meningkat pula seiring dengan peningkatan ekskresi H
  • Kelebihan alddosteron : Salah satu fungsi aldosteron yaitu meningkatkan reabsopsi Na+. seperti yang dijelaskan diatas, terjadi juga alkalosis. Walaupun alkalosis yang disebabkan karena peningkatan aldosteron merupakan alkalosis ringan. 
  •  Muntah : Muntah menyebabkan banyak HCl lambung keluar dari tubuh. Dengan demikian, banyak ion H+ yang hilang dari tubuh. Alkalosis jenis ini banyak ditemukan pada neonates yang mengalami obstruksi pylorus akibat hipertrofi sfingter pylorus.

Kompensasi primermya yaitu dengan penurunan ventilasi, yang meningkatkan PCO2, dan peningkatan ekskresi HCO3- oleh ginjal, yang membantu mengompensasi peningkatan awal konsentrasi HCO3- CES.

Saturday, November 29, 2014

Manfaat Bawang Putih Sebagai Antihipertensi



Di Indonesia bawang putih (Allium Sativum) hanya dikenal sebagai bumbu masakan. Tumbuhan bumbu yang berasal dari genus Afflum ini masuk dalam klasifikasi tumbuhan tanaman rumput berumbi lapis atau siung yang tersusun. Bawang putih tumbuh seecara berumpun dan berdiri tegak samapi setinggi 30-75 cm, mempunyai batang semu yang terbentuk dari pelepah-pelepah daun. Helaian daun mirip dengan pita, berbentuk pipih memanjang. Akar bawang putih terdiri dari serabut-serabut kecil yang jumlahnya sangat banyak. Setiap umbi bawang putih terdiri dari anak bawang (siung) yang terbungkus oleh kulit tipis berwarna putih. Bawang putih dapat hidup baik pada ketinggian 200-250 meter di atas permukaan laut.

Tanaman yang juga dikenal dengan nama garlic ( Inggris) ataupun Bodas (sunda) dapat ditanam dari bibit yang berasal dari tumbuhan bawang yang berumur cukup tua sekitar 85-135 hari, sehat dan tidak cacat. Bibit yang telah dipilih kemudian disimpan dalam ruangan kering sekitar 5-8 bulan. Biasanya digantung. 

Begitu banyak manfaat yang diberikan bawang putih ini selain hanya sebagai bumbu masakan. Manfaat lain yang diberikan diantaranya untuk pengobatan hipertensi. Bawang putih diketahui mengandung allicin dan sulfida. Allicin merupakan zat yang bekerja untuk merelaksasi pembuluh darah.

 Selain itu, hal tersebut juga akan mengganggu efek angiotensin, yaitu enzim yang meningkatkan tekanan darah dan membuat otot berkontraksi lancar. Tidak hanya itu, kemampuan allicin untuk memecah aktivitas fibrinolitik dalam darah seseorang juga sangat membantu mengurangi tingkat agregasi kolesterol dan trombosit. 

Alasan lain mengapa bawang putih dapat mencegah hipertensi adalah rempah-rempah ini memiliki kemampuan merangsang hydrogen sulfide dan produksi oksida nitrat sintase. Fungsinya hampir sama dengan aliccin. Hydrgen sulfide akan merangsang pelepasan oksida nitrat yang dikenal sebagai faktor relaksan pada pembuluh darah. Dengan kedua peran ini tekanan darah akan lebih terkontrol.

Untuk pemanfaatan sebagai antihipertensi, ambilah tiga siung bawang putih, tumbuk dan peras dengan air secukupnya, kemudian saring. Minum larutan ini setiap hari. Selain cara tersebut ada cara alternatif lainnya. Ambilah dua siung bawang putih kemudian panggang dengan api dan makan tiap hari tiap pagi selama 7 hari.

Tetapi pengobatan dengan bawang putih saja tidak cukup untuk mengatasi masalah hipertensi. Kita tetap perlu konsultasi dengan dokter tenatng masalah hipertensi ini. Hal tersebut karena hipertensi merupakan akar dari beberapa penyakit yang sangat membunuh, salah satunya penyakit jantung.

Daftar pustaka:
Fauzi, Dodi Ahmad, 2008, Panduan lengkap Manfaat Tanaman Obat, Jakarta: Edsa Mahkota.
http://lifestyle.okezone.com/read/2013/10/28/484/888089/alasan-bawang-putih-bisa-cegah-hipertensi
http://wawasanilmukimia.wordpress.com/2014/03/06/nitrogen-oksida-fungsi-biologis-aplikasi-medis/

Friday, November 28, 2014

GERD (Gastroesophegal Reflux Disease)

GERD adalah suatu keadaan patologis sebagai akibat refluks kendungan lambung ke dalam esofagus denagn berbagai gejala yang timbul akibat keterlibatan esofagus, laring, faring, dan saluran nafas.Gangguan ini akan berakibat buruk pada esofagus, dapat menyebabkan terjadinya striktur, Barrett's esofagus, bahkan adenikarsinoma. Penyakut ini kadang disebut juga dengan esofagitis refluks.

Penyakit ini banyak ditemukan di negara-negara barat sedangkan di  negara-negara asia afrika penyakit ini relatif sedikit. Di USA dilaporkan bahwa satu dari lima orang dewasa mengalami serangan seminggu sekali, sedangkan lebih dari 40% mengalami gejala GERD dalam sebulan sekali. Prevalensi GERD di USA mencapai 7% sedangkan di negara-negara asia relatif lebih kecil. Sebagai contoh di Tiongkok hanya  berkisar 1.5 % dan Korea sekitar 2,7%. Tingginya prevalensi GERD di negara barat dikarenakan faktor diet dan meningkatnya obesitas.

Di Indonesia epidemiologi tentang penyakit ini belum ada. Namun dari semua pasien RSCM departemen gastroenterologi yang melakukan endoskopi karena indikasi dispepsia, ditemukan sebanyak 22,8% pasien yang menderita esofagitis.

Etiologi dan Patogenesis
Secara anatomi, gaster dan esofagus dipisahkan oleh sebuah spinkter yang akan menahan cairan lambung. Pada keadaan normal, spingter ini (Lower Esofagus Sphincter/LES) hanya terbuka pada saat gerakan antegrad seperti pada saat menelan, dan pada gerakan retrograd seperti pada sendawa. Namun apabila terjadi ganguan pada LES yang berakibat pada penurunan tekanan LES (kurang dari 3 mmHg) bahkan hingga kehilangan LES, maka cairan lambung akan dengan mudah berkontak dengan esofagus.

Refluks dapat terjadi akibat 3 mekanisme:
  • Reflusk spontan pada saat LES tidak adekuat
  • Aliran retrograd yang mendahului kembalinya tonus LES saat menelan
  • Meningkatnya tekanan intraabdomen
Penyakit GERD dapat terjadi akibat 2 hal berikut,
  • Terjadinya kontak yang cukup lama antara bahan refluksat dengan mukosa esofagus, atau
  • Terjadinya penurunan resistensi jaringan mukosa esofagus , walapun waktu kontak yang terjadi tidak cukup lama.
Kedua kejadian di atas akan menyebabkan terjadinya gangguan pada esofagus dan menyebabkan terjadinya esofagitis. Proses patogenesis pada GERD menyangkut kesetimbangan faktod ddefensif esofagus (melindungi mukosa esofagus) dengan faktor ofensif (yang merusak mukosa esofagus) yang berasal dari cairan lambung. Yang termasuk ke dalam faktor defensif yaitu
  1. Pemisah antirefluks (LES) : Peran sangat besar dalam menjaga faktor ofensif tentang pada tempatnya. Namun pada keadaan tertentu dapat terjadi penurunan tekanan LES. Faktor-faktir yang menurunkan tonus LES yaitu
    • Adanya hiatus hernia
    • LES yang berukuan pendek
    • Penggunaan oba-obatan antikolinergik, beta adrenergik, theophilin, opiat, dll
    • Faktor hormonal, misalnya pada masa kehamilan, peningkatan progesteron akan menurunkan tonus LES
  2. Bersihan Asam dari lumen esofagus : Mekanisme bersihan asam ini sangat penting karena semakin lama kontak yang terjadi antara asam dengan esofagus, maka akan semakin besar terjadinya esofagitis. Refluks yang terjadi pada malam hari akan lebih berbahaya, hal tersebut karena sebagaian faktor bersihan asam tidak bekerja dengan baik. Faktor yang memepengaruhi bersihan asam dari esofagus yaitu :
    • Grvitasi
    • Peristaltik
    • Eksresi Air Liur
    • Bikarbonat
  3. Ketahanan Epitel esofagus : Esofagus berbeda dengan lambung yang memiliki lapisan mucus yang dapat melindunginya dari asam. Pertahana esofagus hanay terdiri dari
    • Membran sel
    • Intracellular junction yang membatasi difusi ion H ke jaringan esofagus
    • Aliran darah esofagus yang mensuplai nutien, oksigen dan bikarbonat, serta mengeluarkan ion H dan karbondioksida.
    • Sel-sel esofagus mempunyai kemampuan untuk mentransport ion H dan ion Cl intrrseluler dengan ion Na dan bikarbonat ekstraselular.
Yang termasuk ke dalam faktor ofensif (perusak yaitu)
  1. Kekuatan refluksan
  2. Sekresi gastrik
  3. Daya pilory
Manifestasi klinis
Gejala klini dari GERD biasanya berjalan perlahan- lahan, sangat jarang terjadi episode akut atau keadaan yang mengancam jiwa. Gejala klinik yang biasa muncul antara lain:
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium atau retrosternal bagian bawah. Biasanya digambarkan sebagai sensai terbakar (heartburn)
  • Disfagia ( Sulit menelan)
  • Odinofagia (sakit pada saat menelan)
  • Muntah
  • Rasa pahit di lidah
  • Dapat juga menimbulkan gejala ekstra esofageal seperti:
    • nyeri dada non kardiak
    • suara serak
    • laringitis
    • batuk
    • aspirasi
    • bronkoektasis
    • asma
Diagnosis
Selain anamnesa dan pemeriksaan fisik, beberapa pemeriksaan penunjang dibutuhkan untuk menegakan diagnosa seperti
  • Endoskopi saluran cerna bagian atas : merupakan pemeriksaan penujang baku dalam GERD. dari pemeriksaan ini dapat ditemukan keadaan patologis yang menimbulkan GERD. Jika tidak ditemukan mucosal defek, maka dapat dikategorikan sebagai Non Erosive Refluks disease (NERD).
Klasifikasi Los Angeles
Derajat Kerusakan
Gambaran Endoskopi
A
Erosi kecil pada mukosa esophagus dengan diameter < 5 mm
B
Erosi kecil pada mukosa esophagus dengan diameter >5 mm tanpa saling berhubungan
C
Lesi yang konfluen tetapi tidak mengenai/ mengelilingi seluruh lumen
D
Lesi mengelilingi esophagus yang bersifat sirkumferensial
  • Esofotografi dengan barium : Pemeriksaan ini kurang sensitif dibandingan dengan endoskopi karena sering tidak menunjukan kelainan pada kasus esofagitis yang kecil. Namun pemeriksaan ini dapat memberikan nilai lebih pada stenosis esofagus derajat ringan akibat esofagitis peptik dengan gejala disfagia dan pada kasus hiatus hernia.
  • Pemantauan pH selama 24 jam
  • Tes benrstein : Merupkan tes pelengkap pH 24 ja. Tes ini menggunakan larutan HCL 0,1 M yang diteteskan ke esofagus. Digunakan pada pasien dengan gejala yang tidak spesifik. Dinyatakan positif apabila pasien merasakan perih pada saat penetesan HCL, dan tidak nyeri pada penetesan NaCl. Tes ini untuk menyingkirkan adanya nyeri yang berasal dari esofagus.
  • Manometri Esofagus
  • Sintigrafi gastroesofageal
  • PPI test/ acid supression test : Pada dasaarnya tes ini adalah terapi empirik untuk menilai gejala GERD dengan memebrikan PPI dosis tinggi selama 1-2 minggu sambil melihat repon yang terjadi.
Penatalaksanaan
  • Modifikasi gaya hidup
    • Meninggikan posisi kepala saat tidur
    • Hindari makan sebelum tidur
    • Berhenti meroko dan mengkonsumsi alkohol
    • Mengurangi konsumsi lemak serta mengurangi makan dalam jumlah besar 
    • Menghindari makanan yang dapat menstimulasi asam seperti coklat, teh, pepermint, kopi, dan minuman bersoda.
    • Hindari obat-obatan yang menurunkan tonus LES
  • Terapi medikamentosa 
    • Antasida, Dosis:4x1 sendok makan
    • Antagonis reseptor H2
      • Simetidin 2 x 800 mg atau 4 x 400 mg
      • Ranitidin 4 x 150 mg
      • famotidin 2 x 20 mg
      • Nizatidin 2 x 150 mg
    • Prokinetik
      • Metoklopramid 3 x 10 mg
      • Domperidon 3 x 10-20 mg
      • Cisaprade 3 x 10 mg
    • Sukralfat, Dosis 4 x 1 g
    • PPI (drug of choice), pemberian selama 6-8 minggu dan dapat dilanjutkan selama 4 bulan berikutnya/on demand. Efektifitasnya meningkat apabila dikobinasikan dengan prokinetik.
      • Omepazole 2x20 mg
      • lansoprazole 2 x 30 mg
      • pantoprazole 2 x 40 mg
      • Rabeprazole 2x10 mg
      • Esoprazole 2x40 mg
      • Untuk NERD dosisnya setengah dari GERD.\
Daftar Pustaka
Makmun, Dadang, 2009, Penyakit refluks gastroesofagus ( Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid I edisi V), Jakarta:InternalPublishing.

Thursday, November 27, 2014

Pengertian Sehat

Sehat adalah keadaan dimana segala sesuatu berjalan dengan normal sebagai mana mestinya sesuai dengan fungsinya. Sedangkan menurut WHO sehat adalah keadaan sempurna baik fisik mental dan sosial tidak hanya bebas dari sakit ataupun kelemahan. Pengertian sehat menurut WHO tidak hanya mengenai tubuh/badan saja, melainkan arti sehat secara paripurna. Sehat menurut WHO meliputi 4 komponen utama yang membentuk positif health yaitu:
  • Sehat Jasmani
  • Sehat rohani
  • Sehat Spiritual
  • Kesejahteraan sosial
Sedangkan pengertian sehat menurut UU No. 23/1992 adalah  keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Artinya seseorang di katakan sehat jika tubuh, jiwa dan kehidupan sosialnya berjalan dengan normal dan sebagaimana mestinya. Jika salah satu komponen tersebut terganggu, maka kehidupannya akan menjadi tidak sehat.

MUI dalam MUNAS Ulama 1983 mendefinisikan sehat sebagai ketahanan “jasmaniah, ruhaniyah dan sosial” yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri, dijaga, di pelihara, di kembangkan serta diamalkan sesuai dengan tuntunan-Nya.
 
Menurut Paune (1983), sehat adalah fungsi efektif dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces) yang menjamin tindakan perawatan diri ( self care actions). Sumber perawatan diri (Self care Resouces) mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Sedangkan Self care Actions merupakan perilaku yang sesuai dengan tujuan yang diperlukan untuk memperoleh, mempertahankan dan meningkatkan fungsi psikososial dan spiritual.

Jadi inti dari sehat bukan hanya badan yang tidak sakit, namun mengandung arti yang lebih luas lagi. Sehat mencakup keseluruhan, Bahkan jika kita melihat pengertian sehat di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa seseorang yang hidup dalam kemiskinan dapat juga kita masukan ke dalam kategori "tidak sehat".
Pengertian sehat menurut WHO atau organisasi kesehatan dunia adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Definisi sehat menurut WHO ini adalah sehat secara keseluruhan, baik jasmani, rohani, lingkungan berikut faktor-faktor serta komponen-komponen yang berperan di dalamnya. Sehat menurut WHO terdiri dari suatu kesatuan penting dari 4 komponen dasar yang membentuk ‘positif health’, yaitu:
  • Sehat Jasmani
  • Sehat Mental
  • Sehat Spiritual
  • Kesejahteraan sosial
- See more at: http://www.kamusq.com/2013/08/sehat-adalah-pengertian-dan-definisi.html#sthash.hSLlVBMm.dpuf
Pengertian sehat menurut WHO atau organisasi kesehatan dunia adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Definisi sehat menurut WHO ini adalah sehat secara keseluruhan, baik jasmani, rohani, lingkungan berikut faktor-faktor serta komponen-komponen yang berperan di dalamnya. Sehat menurut WHO terdiri dari suatu kesatuan penting dari 4 komponen dasar yang membentuk ‘positif health’, yaitu:
  • Sehat Jasmani
  • Sehat Mental
  • Sehat Spiritual
  • Kesejahteraan sosial
- See more at: http://www.kamusq.com/2013/08/sehat-adalah-pengertian-dan-definisi.html#sthash.hSLlVBMm.dpuf
Pengertian sehat menurut WHO atau organisasi kesehatan dunia adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Definisi sehat menurut WHO ini adalah sehat secara keseluruhan, baik jasmani, rohani, lingkungan berikut faktor-faktor serta komponen-komponen yang berperan di dalamnya. Sehat menurut WHO terdiri dari suatu kesatuan penting dari 4 komponen dasar yang membentuk ‘positif health’, yaitu:
  • Sehat Jasmani
  • Sehat Mental
  • Sehat Spiritual
  • Kesejahteraan sosial
- See more at: http://www.kamusq.com/2013/08/sehat-adalah-pengertian-dan-definisi.html#sthash.hSLlVBMm.dpuf
Pengertian sehat menurut WHO atau organisasi kesehatan dunia adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan. Definisi sehat menurut WHO ini adalah sehat secara keseluruhan, baik jasmani, rohani, lingkungan berikut faktor-faktor serta komponen-komponen yang berperan di dalamnya. Sehat menurut WHO terdiri dari suatu kesatuan penting dari 4 komponen dasar yang membentuk ‘positif health’, yaitu:
  • Sehat Jasmani
  • Sehat Mental
  • Sehat Spiritual
  • Kesejahteraan sosial
- See more at: http://www.kamusq.com/2013/08/sehat-adalah-pengertian-dan-definisi.html#sthash.hSLlVBMm.dpuf

Related Post

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...