Friday, February 13, 2015

Kandidosis (Kandidiasis)

Definisi
            Kandidosis adalah penyakit jamur, yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh spesies Candida, biasanya oleh spesies Candida Albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki atau paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septicemia, endokarditis, atau meningitis.

Sinonim
            Kandidiasis, moniliasis

Epidemiologi
            Penyakit ini  terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua umur, baik laki-laki maupun perempuan. Jamur penyebabnya terdapat pada orang sehat sebagai saprofit. Gambaran klinisnya bermacam-macam sehingga tidak diketahui data-data penyebarannya dengan tepat.

Etiologi
            Yang tersering sebagai penyebab ialah Candida albicans yang dapat diisolasi dari kulit, mulut, selaput mukosa vagina, dan feses orang normal. Sebagai penyebab endokarditis kandidosis ialah C. Parapsilosis dan penyebab kandidosis septicemia adalah C. tropicalis.

Klasifikasi
            Berdasarkan tempat yang terkena CONANT dkk. (1971), membaginya sebagai berikut :
Kandidosis selaput lendir :
1.      Kandidosis oral (thrush)
2.      Parlѐche
3.      Vulvovaginitis
4.      Balanitis atau balanopostitis
5.      Kandidosis mukokutan kronik
6.      Kandidosis bronkopulmonar dan paru


Kandidosis kutis :
1.      Lokalisata : a. daerah intertriginosa
       b.daerah perianal
2.      Generalisata
3.      Paronikia dan onikomikosis
4.      Kandidosis kutis granulomatosa

Kandidosis sistemik :
1.      Endokarditis
2.      Pielonefritis
3.      Septicemia

Reaksi id. (kandidid)

Patogenesis
            Infeksi kandida dapat terjadi, apabila ada faktor predisposisi baik endogen maupun eksogen.
            Faktor endogen
1.      Perubahan fisiologik :
a.       Kehamilan, karena perubahan pH dalam vagina
b.      Kegemukan, karena banyak keringat
c.       Debilitas
d.      Iatrogenik
e.       Endokrinopati, gangguan gula darah kulit
f.        Penyakit kronik : tuberkulosis, lupus eritematosus dengan keadaan  umum yang buruk
2.      Umur : orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologiknya tidak sempurna.
3.      Imunologik : penyakit genetik.

Faktor eksogen
a.       Iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan respirasi meningkat
b.      Kebersihan kulit
c.       Kebiasaan berendam kaki dalam air yang terlalu lama menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur
d.      Kontak dengan penderita, misalnya pada thrush, balanopostitis

Gejala Klinis
       I.            Kandidosis Selaput Lendir
a.      Thrush
      Biasanya mengenai bayi, tampak pseudomembran putih coklat muda kelabu yang menutup lidah, palatum mole, pipi bagian dalam, dan permukaan rongga mulut yang lain. Lesi dapat terpisah-pisah, dan tampak seperti kepala susu pada rongga mulut. Bila pseudomembran terlepas dari dasarnya tampak daerah yang basah dan merah.
      Pada glositis kronik, lidah tampak halus dengan papilla yang atrofik atau lesi berwarna putig di tepi atau di bawah permukaan lidah. Bercak putih ini tidak tampak jelas bila penderita sering merokok.
b.      Parlѐche
Lesi berupa fisur pada sudut mulut; lesi ini mengalami maserasi, erosi, basah, dan dasarnya eritematosa. Faktor predisposisi ialah defisiensi riboflavin.
c.       Vulvovaginitis
Biasanya sering terdapat pada penderita diabetes mellitus karena kadar gula darah urin yang tinggi dan pada wanita hamil karena penimbunan glikogen dalam epitel vagina.
Keluhan utama ialah gatal di daerah vulva. Pada yang berat terdapat pula rasa panas, nyeri sesudah miksi, dan dispaneuria.
Pada pemeriksaan yang ringan tampak hyperemia di labia menora, introitis vagina, dan vagina terutama 1/3 bagian bawah. Sering pula terdapat kelainan yang khas ialah bercak-bercak putih kekuningan.
Pada kelainan yang berat juga terdapat edema pada labia menorah dan ulkus-ulkus yang dangkal pada labia menorah dan sekitar introitus vaginal.
Fluor albus pada kandidosis vagina berwarna kekuningan. Tanda yang khas ialah disertai gumpalan-gumpalan sebagai kepala susu berwarna putih kekuningan. Gumpalan tersebut berasal dari massa yang terlepas dari dinding vulva atau vagina terdiri atas bahan nekrotik, sel-sel epitel dan jamur.

Balanitis atau balanopostitis
Penderita mendapat infeksi karena kontak seksual dengan wanitanya yang menderita vulvovaginitis, lesi berupa erosi, pustule dengan dindingnya yang tipis, terdapat pada glans penis dan sulkus koronarius glandis.

Kandidosis mukokutan kronik
Penyakit ini timbul karena adanya kekurangan fungsi leukosit atau system hormonal, biasanya terdapat pada penderita dengan bermacam-macam defisiensi yang bersifat genetik, umumnya terdapat pada anak-anak. Gambaran klinisnya mirip penderita dengan defek poliendokrin.

    II.            Kandidosis Kutis
a.      Kandidosis intertriginosa
Kelainan ini sering terjadi pada orang-orang yang gemuk. Menyerang lipatan-lipatan kulit yang besar. Pada orang yang banyak mencuci, jamur ini menyerang daerah interdigital tangan maupun kaki. Terjadi daerah erosi dengan maserasi berwarna keputihan di tengahnya. Juga terjadi lesi-lesi satelit di sekelilingnya.
Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan atau kaki, glans penis, dan umbilicus, berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah, dan eritematosa.
Lesi tersebut dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif, dengan pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi primer.
b.      Kandidosis perianal
Lesi berupa maserasi seperti infeksi dermatofit tipe basah. Penyakit ini menimbulkan pruritus ani.
c.       Kandidosis kutis generalisata
Lesi terdapat pada glabrous skin, biasanya juga di lipat payudara, intergluteal, dan umbilicus. Sering disertai glositis, stomatitis, dan paronikia.
Lesi berupa ekzematoid, dengan vesikel-vesikel dan pustule-pustul. Penyakit ini sering terdapat pada bayi, mungkin karena ibunya menderita kandidosis vagina atau mungkin karena gangguan imunologik.

Paronikia dan onikomikosis
      Sering diderita oleh orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan air, bentuk ini tersering didapat. Lesi berupa kemerahan, pembengkakan yang tidak bernanah, kuku menjadi tebal, mengeras dan berlekuk-lekuk, kadang-kadang berwarna kecoklatan, tidak rapuh, tetap berkilat dan tidak terdapat sisa jaringan di bawah kuku seperti pada tinea unguium.



Diaper-rash
      Sering terdapat pada bayi yang popoknya selalu basah dan jarang diganti yang dapat menimbulkan dermatitis iritan, juga sering diderita neonates sebagai gejala sisa dermatitis oral dan perianal.

Kandidosis granulomatosa
      HOUSER dan ROTHMAN melaporkan bahwa penyakit ini sering menyerang anak-anak, lesi berupa papul kemerahan tertutup krusta tebal berwarna kuning kecoklatan dan melekat erat pada dasarnya. Krusta ini dapat menimbul seperti  tanduk sepanjang 2 cm, lokalisasinya sering terdapat di muka, kepala, kuku, badan, tungkai dan faring.

 III.            Kandidosis Sistemik

Endokarditis
Sering terdapat pada penderita morfinis sebagai akibat komplikasi penyuntikan yang dilakukan sendiri, juga dapat diderita oleh penderita sesudah operasi jantung.

Meningitis
Terjadi karena penyebaran hematogen jamur, gejalanya sama dengan meningitis tuberkulosis atau karena bakteri lain.

  IV.            Reaksi id (Kandidid)
Reaksi terjadi karena adanya metabolit kandida, klinisnya berupa vesikel-vesikel yang bergerombol, terdapat pada sela jari tangan atau bagian badan yang lain, mirip dermatofitid.
Di tempat tersebut tidak ada elemen jamur. Bila lesi kandidosis diobati, kandidosis akan menyembuh. Jika dilakukan uji kulit dengan kandidin (antigen kandida) member hasil positif.

Pembantu Diagnosis
1.      Pemeriksaan Langsung
Kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10% atau dengan pewarnaan Gram, terlihat sel ragi, blastospora atau hifa semu.

2.      Pemeriksaan Biakan
Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa glukosa Sabouraud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotic (kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 37C, koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony. Identifikasi Candida Albicans dilakukan dengan membiakkan tumbuhan tersebut pada corn meal agar.

DIAGNOSIS BANDING
kandidosis kutis lokalisata dengan :
a.       Eritrasma : lesi di lipatan, lesi lebih merah, batas tegas, kering tidak ada satelit, pemeriksaan dengan sinar wood positif.
b.      Dermatitis intertriginosa
c.       Dermatofitosis (tinea)

Kandidosis kuku dengan tinea unguium
Kandidosis vulvovaginitis dengan :
a.       Trikomonas vaginalis
b.      Gonore akut
c.       Leukoplakia
d.      Liken planus

Pengobatan
1.      menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi
2.      Topikal :
-          Larutan ungu gentian ½ - 1% untuk selaput lendir, 1-2% untuk kulit, dioleskan sehari 2 kali selama 3 hari.
-          Nistatin : berupa krim, salap, emulsi
-          Amfoterisin B
-          Grup azol antara lain :
- Mikonazol 2& berupa krim atau bedak
- Klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dank rim
- Tiokonazol, bufonazol, isokonazol
- Siklopiroksilamin 1% larutan, krim
- Antimikotik yang lain yang berspektrum luas
3.      Sistemik
-          Tablet nistatin untuk menghilangkan infeksi fokal dalam saluran cerna, obat ini tidak diserap oleh usus.
-          Amfoterisin B diberikan intravena untuk kandidosis sistemik.
-          Untuk kandidosis vaginalis dapat diberikan kotrimazol 500 mg pervaginam dosis tunggal, sistemik dapat diberikan ketokonazol 2x200 mg selama 5 hari atau dengan itrakonazol 2x200 mg dosis tunggal atau dengan flukonazol 150 mg dosis tunggal.
-          Itrakonazol : bila dipakai untuk kandidosis vulvovaginalis dosis untuk orang dewasa 2x100 mg sehari, selama 3 hari.

Prognosis
            Umumnya baik, bergantung pada berat ringannya factor predisposisi.

No comments:

Post a Comment

Related Post

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...